DAGANG
Oleh Helmi
Sardi seorang laki laki yang lahir pada tanggal 1 desember 1930 dan diri nya tinggal di pelosok desa dekat dengan kota yang Bernama bandung. Sandi kerap ingin pergi ke kota untuk ikut dengan ibu nya berdagang membantu ibu nya menjual anyaman dari bambu dan lidi. Namun ibunya kerap menolak bantuan baik dari sardi karena ibu sardi takut sardi akan terluka karna pada masa itu Indonesia belum merdeka dan kerap di serang penjajah yang masih berkeliaran menjajah Indonesia. Ibu sardi menjual anyaman nya di pasar kota walau jarang ada orang yang membeli namun demi anak nya diri nya kerap memaksakan diri untuk tetap menjual anyaman nya. Ayah sardi sendiri sudah tewas dibunuh oleh penjajah saat melewati perbatasan antara desa dan kota Ketika dia ingin menjual anyaman istri nya. Sardi sendiri tidak tau muka ayah nya sendiri karena sudah tewas sebelum sardi berumur 1 tahun karena kematian sang ayah ibu Sardi yang harus menjual anyaman nya itu dan berkorban nyawa karena diri nya bisa kapan saja terbunuh oleh penjajah yang masih berkeliaran dengan bebas.
Sardi sendiri kerap diganggu oleh teman teman nya karena tak memiliki sosok ayah dalam hidup nya. Sardi bahkan sering bertanya kepada ibu “ibu dimana ayah kenapa aku tak pernah melihat ayah?” ibu Sardi kerap menangis karena sardi tumbuh tanpa sosok ayah dalam hidup nya. Karana ibu sardi menyadari bahwa anak nya sardi kerap diganggu oleh teman teman nya diri nya mengajak sardi ikut untuk berjualan anyaman nya di kota bandung Sardi yang di ajak ibu nya untuk berjualan Sardi sangat senang karena tak akan diganggu oleh teman teman nya. Mereka selalu pergi pagi-pagi sekali Ketika langit masih sangat gelap karena perjalan dari desa dan kota cukup jauh dan penjajah yang bisa kapan saja melihat mereka di pagi hari sardi yang baru pertama kali di ajak pergi ke kota diri nya sangat bersemangat dan sangat menanti nanti kan untuk melihat kota bandung.
Sardi yang pertama kali melihat kota bandung dari dekat diri nya sangat terkejut karena sangat berbeda dengan desa banyak sekali orang yang berjalan di kota. Ibu sardi sangat senang karena melihat anak nya begitu senang melihat kota namun diri tau harus menjual anyaman nya diri nya memanggil sardi dan mereka ke pasar untuk menjual anyaman nya. Sardi yang melihat ibu nya menawarkan anyaman nya dengan penuh semangat waluh orang-orang tak memperhatikan nya, sardi yang melihat hal tersebut membantu ibu nya menawarkan ayaman nya kepada orang-orang yang ada di pasar berbeda dengan ibu nya banyak orang yang memperhatikan Sardi yang menawarkan anyaman ibu nya itu. Orang-orang melihat tersebut heran karena anak sekecil itu membantu ibunya berjualan di pasar orang yang kasihan dan orang yang tertarik mendekat dan bertanya kepada sardi berapa harga 1 anyaman itu. Sardi yang tidak tau hanya bisa menoleh kearah ibu nya dengan muka kebingungan ibu sardi mendekat dan berkata bahwa 1 anyaman berharga 12.000 ribu.
Pada hari itu ibu Sardi sangat terkejut bahwa anyaman nya terjual habis dengan bantuan dari sardi, sardi yang melihat ibu nya begitu senang sardi juga ikut senang singkat waktu mereka pulang ke rumah dan ibu sardi memasak makan kesukan sardi kara telah membantu diri nya berjualan. Selang 5 tahun berlalu pada tahun 1945 tepat dengan kemerdekan. Sardi sudah cukup tumbuh dewasa namun diri nya tetap membantu ibunya berjualan anyaman namun sardi sudah menyadari bahwa orang-orang yang membeli anyaman nya hanya kasihan pada diri nya waktu itu karena diri nya masih kecil namun sekarang sudah jarang ada yang membeli anyaman nya lagi. Sardi yang dengan cepat menyadari hal tersebut bernegosiasi dengan nelayan untuk memberikan diri nya ikan dan berbagi penghasilan dari berjualan anyaman dan ikan segar dari nelayan yang sardi bawa.
Rencana Sardi cukup berjalan cukup bagus banyak yang membeli ikan dari diri nya ibu sardi yang melihat hal tersebut membantu sardi menjual ikan itu dan anyaman yang dulu di jual sudah jarang ada yang membeli jadi ibu sardi hanya memajang nya di samping ikan ikan yang di jual. Terkadang ada yang membeli untuk dijadikan hiasan saja. Sardi yang sekarang sudah cukup berpenghasilan dan masuk orang yang cukup kaya di desa nya orang-orang yang dulu suka menjahili nya sekarang suka iri dengan sardi yang sudah bisa berdagang di kota bandung. Sardi tak memperdulikan orang-orang yang sering mengganggu nya itu dan terus fokus berdagang menjual ikan dan anyaman nya itu. Dan pada waktu tahun baru menyambut tahun baru 1946 Sardi sangat senang karena diri nya bisa memberikan ibu nya hadiah sebuah kalung emas dari uang dagang yang kerap diri nya tabung.
Namun ibu nya sudah tahu bahwa sardi akan memberikan hadia pada diri nya karena sudah melihat diri nya menabung sejak lama demi diri nya namun ibu sardi tetap diam dan sengaja agar dirinya bisa melihat anak nya tetap bersemangat berdagang. Dan pada tahun baru Ketika sardi ingin memberikan hadia kalung emas itu kepada ibu nya ibu nya sengaja terkejut walau dirinya sudah tahu bahwa dirinya akan di berikan hadia oleh anak satu-satu nya yaitu Sardi. Beberapa bulan berlalu tepatnya pada tanggal 24 Maret 1946 sardi dan ibu nya yang sedang berjualan di pasar kota bandung tanpa mereka sadari bahwa penjajah menyerang bandung dengan pasukan yang begitu banyak. Sardi dan ibu nya menyadari hal tersebut karena banyak teriakan di luar pasar karena penasaran mereka ber berdua melihat keadaan di luar dan menyadari banyak mayat di jalan yang mati tertembak oleh penjajah.
Sardi yang melihat hal tersebut langsung menarik tangan ibu nya dan lari meninggalkan pasar dan meninggalkan orang-orang yang masih di pasar demi menyelamatkan diri mereka. Sardi berlari sambil mencari tempat evakuasi mereka berlari ke pusat kota bandung dan melihat banyak Gedung dan bagunan runtuh karna penjajah sardi yang melihat pasukan bandung langsung menghampiri mereka dan bertanya tempat evakuasi pasukan itu menunjuk jalan dan menyuruh mereka untuk langsung evakuasi. Namun Sardi melihat bahwa banyak sekali orang yang ingin melakukan evakuasi sardi memegang tangan ibu nya yang sudah cukup berumur dengan begitu erat sardi langsung menerobos kerumunan orang-orang tersebut agar bisa selamat. Namun keadaan semakin menggemparkan karena adanya kebakaran yang sangat besar di lokasi penjajah dan para pasukan berada orang-orang yang ingin melakukan evakuasi semakin panik dan ber berdesak desakan sardi berhasil memasuki tempat evakuasi yang begitu ramai. Sardi sangat kelelahan karena Lelah berlari dan menyalip antrian evakuasi.
Dan diri nya baru tersadar bahwa ibu nya tak Bersama nya diri nya mengingat bahwa diri nya memegang tangan ibu nya sardi sangat panik dan takut bahwa ibu nya akan terbunuh diri nya berlari ingin keluar dari tempat evakuasi namun diri nya di cegat oleh polisi yang melakukan evakuasi dan mendorongnya masuk ke tempat evakuasi. Sardi berkata bahwa ibunya masih tertinggal di luar dan belum masuk ke dalam tempat evakuasi namun polisi itu tak mendengarkan nya dan menutup pintu evakuasi. Perang antara bandung dan belanda terjadi 2 hari pada tanggal 24 hingga tanggal 25 sardi hanya bisa menangis karena ibu nya tak Bersama diri nya setelah perang selesai dalam 2 hari dan bandung menang namun kenangan itu sangat tragis dan banyak memakan korban. Sardi langsung berlari keluar dari tempat evakuasi dan mencari ibu nya.
Namun sangat sulit untuk mencari ibu sardi karena masih begitu banyak mayat di luar sana karena bekas perang namun sardi tetap mencari ibu nya yang hilang itu selama 5 hari sardi mencari keberadan ibu nya yang hilang tak menemukan nya para polisi yang membantu pencarian warga yang hilang juga tak menemukan nya. Sardi sangat terpukul dan hanya bisa menangis di rumahnya yang berada di desa.
THE END
Note: cerpen ini dibuat berdasarkan sejarah bandung lautan api, dan cerpen berdasarkan karangan penulis.
Komentar
Posting Komentar